Sinopsis Film: The Boy In The Striped Pajamas

The Boy In The Pajamas

The Boy In The Pajamas

Judul Film: The Boy in the Striped Pajamas (Anak Lelaki Berpiyama Garis-Garis)

Kategori: Drama

Penokohan:
Bruno : Anak Laki-Laki yang menjadi tokoh utama. Berusia 8 tahun.
Shmuel : Anak Keturunan Yahudi yang menjadi teman Bruno. (memakai Piama bergaris-garis.
Elsa : Ibu Bruno.
Ralf : Ayah Bruno seorang perwira pasukan SS Nazi berpangkat Obersturmbannfuhrer (setingkat Letnan Kolonel)
Gretel : Kakak Bruno yang berusia 12 Tahun.
Pavel : Seorang Yahudi mantan dokter yang bekerja di rumah Bruno sebagai pengupas kentang.

SINOPSIS

Kisah ini berlangsung di Jerman dengan waktu jaman Perang Dunia II. Pada waktu itu orang Jerman sangat benci kepada orang-orang Yahudi. Karena menganggap orang Yahudi dengan kecerdasannya menguasai perekonomian Jerman menjadi biang keladinya yang membuat Jerman kalah pada Perang Dunia II.

Militer Jerman menangkap orang-orang Yahudi untuk diharuskan mengikuti kerja paksa. Tempat kerja paksa itu diberi nama kamp konsentrasi. DI kamp konsentrasi itu, orang-orang Yahudi dianggap bukan manusia dan diperlakukan sangat buruk. Diperkirakan ada sekitar 6 juta orang tewas di kamp konsentrasi itu.

Suatu ketika, Bruno harus pindah ke sebuah rumah dinas milik ayahnya karena ayahnya telah menjadi kepala kamp konsentrasi. Rumah dinas itu berada agak jauh dari kamp konsentrasi. Bruno sedih karena harus berpisah dengan teman-teman sekolah, teman bermain. Rumah dinas ayahnya memang lebih luas daripada rumahnya yang dulu. Tapi, Bruno tidak memiliki teman bermain kecuali kakak perempuannya sendiri yang menyebalkan. Di rumah barunya, Bruno hanya tinggal bersama keluarganya dan dua orang pembantu yaitu Maria dan Pavel.

Bruno merasa aneh di rumah barunya tersebut karena Pavel yang bekerja di rumahnya itu memakai piyama bergaris-garis. Bruno tidak tau bahwa piyama bergaris itu adalah seragam yang dipakai tawanan kamp konsentrasi karena ayah Bruno sendiri tidak memberitahukan kepada Bruno bahwa dia tinggal di sekitar kamp konsentrasi. Bruno pun merasa aneh lagi ketika saat dia melihat di luar jendela kamarnya, ada pagar yang membentang melebihi luas pandangannya. Dia juga melihat orang-orang disana memakai piyama bergaris.

Bruno merasa kesepian di rumahnya yang baru. Karena dia tidak mempunyai tetangga dan teman untuk bermain. Bruno dan kakaknya tidak diijinkan keluar rumah, bahkan untuk sekolah pun orangtuanya mereka didatangkan seorang guru bernama Herr Liszt. Suatu hari karena Bruno merasa sangat-sangat kesepian, Bruno pun nekat untuk pergi keluar dari pintu belakang rumahnya. Walaupun sebenarnya Bruno tidak boleh bermain melewati pintu belakang, Bruno nekat karena Bruno sudah merasa sangat kesepian, dia ingin mencari teman, paling tidak ingin berpetualang, mengusir kejenuhan.

Setelah melewati hamparan hutan sampailah Bruno pada sebuah pagar beraliran listrik, yang menjadi tempat bertemu dengan anak lelaki berpiyama garis-garis. Shmuel namanya. Bruno yang hidup normal tidak dapat memahamui hidup shmuel yang menyakitkan. Shmuel keturunan Yahudi. Itulah yang menyebabkan dia berada di kamp konsentrasi. Bruno dan Shmuel pun bersahabat walaupun dibatasi kawat berduri beraliran listrik. Bruno pun sering menyelundupkan makanan kecil dari dapur rumahnya untuk diberikan pada Shmuel. Karena di kamp tidak pernah makan enak, Shmuel sangat menikmati dan lahap memakan kue pemberian Bruno. Mereka lama-lama jadi akrab, sering berbagi cerita, bermain walaupun dibatasi pagar tersebut.

Suatu hari bruno melihat Shmuel bekerja di rumahnya. Shmuel diberi tugas untuk membersihkan gelas-gelas di rumah Bruno. Bruno memberikan kue yang terletak di meja kepada Shmuel. Tapi malangnya saat Shmuel sedang melahap kue itu, ada seorang tentara Jerman memergokinya. Buno pun tidak mengakui bahwa dia memberikan roti kepada Shmuel sehingga Shmuel dihukum dengan cara dipukuli sampai babak belur.

Pernah suatu hari juga, Bruno mengintip film propaganda yang diputarkan dari salah satu ruangan di rumahnya. Di film itu dijelaskan bahwa di kamp konsentrasi itu para Yahudi diperlakukan secara normal, diberikan hiburan yang layak, dan makanan yang bergizi. Padahal semua itu hanya rekayasa penuh kebohongan. Karena pada kenyataannya di kamp konsentrasi tak lain sebagai ajang penyiksaan dan pembunuhan massal.

Kurang lebih setahun berlalu ketika ayah Bruno memutuskan pindah ke lain tempat. Bruno tidak mau pindah karena dia sudah mempunyai sahabat yaitu Shmuel. Tapi bagaimanapun juga Bruno harus pindah. Di saat sebelum Bruno pindah, Bruno bertemu dengan Shmuel, dan Shmuel berkata bahwa ayahnya hilang. Bruno pun berjanji akan menemani Shmuel berpetualang mencari ayahnya. Dengan jalan Bruno harus masuk kamp itu dan menyamar menjadi tawanan. Bruno pun meminta Shmuel membawakan piyama bergaris-garis supaya memudahkan Bruno untuk menyamar. Tidak disangka bahwa itu akan menjadi petualangan bersama yang pertama dan terakhir bagi mereka.

Bruno berhasil menyamar menjadi salah satu tawanan dengan jalan menggali lubang dibawah pagar beraliran listrik itu dan mengenakan piyama bergaris-garis yang dibawakan Shmuel dengan senang hati. Mereka pun berpetualang mencari ayah Shmuel. Bruno merasa heran karena dia pernah melihat tempat yang sama seperti pada film propaganda itu, tetapi suasana dalam kamp itu berbeda sangat jauh dari apa yang dia bayangkan setelah melihat film propaganda tersebut.

Saat memasuki sebuah ruangan, dengan terus berpetualang mencari ayah Shmuel, Para tawanan pun dikumpulkan untuk berbaris dan hendak dimasukkan ke sebuah ruangan yang tertutup rapat. Para Tawanan termasuk Bruno dan Shmuel mengira bahwa mereka akan mandi karena mereka disuruh melepas semua pakaian mereka. Tanpa disangka, mereka dimasukkan ke sebuah ruangan, ditutup rapat dan diberikan gas beracun karena pada hari itu mereka (para tawanan termasuk Bruno Dan Shmuel) akan dihukum mati dengan cara diracuni dengan gas beracun.

Keluarga Bruno akhirnya memang berhasil mengetahui bahwa Bruno menyusup ke kamp konsentrasi. Ayah Bruno dan para anak buahnya sudah masuk ke kamp konsentrasi untuk mencari Bruno. Tetapi semuanya sudah terlambat, gas beracun sudah dialirkan, para tawanan, termasuk Bruno tewas bersama sahabat satu-satunya, Shmuel. (***).

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply