Rahasia Sukses Bisnis Bangsa Jepang

Tokyo

Tokyo

Budaya kerja merupakan indikator yang paling menentukan maju mundurnya sebuah perusahaan. Budaya kerja karyawan yang baik sudah barang tentu akan membuat perusahaan cepat berkembang. Dampak yang lebih besar adalah budaya kerja yang baik akan memperkokoh perekonomian sebuah bangsa.

Banyak hal positif yang bisa kita jadikan contoh, kita jadikan acuan dalam bekerja, bagaimana budaya kerja bangsa Jepang hingga mampu cepat bangkit dari keterpurukan akibat Perang Dunia II (PD II). Budaya kerja bangsa Jepang mampu mengantarkan Jepang menjadi negara dengan perekonomian terkuat ke-2 di dunia setelah Amerika Serikat hanya dalm kurun waktu kurang dari 20 tahun. Beberapa budaya kerja korporasi (perusahaan) di Jepang yang sangat menarik dan unik akan kita coba jelaskan dalam bentuk tulisan singkat berikut.

TEMPAT KERJA ADALAH KELUARGA BESAR
Bagi orang Jepang, tempat bekerja (perusahaan) merupakan sebuah keluarga besar, jadi bukan sekedar tempat untuk mencari uang atau penghasilan. Tempat kerja merupakan identitas dan kebanggaan diri bagi karyawannya. Orang Jepang menganggap karyawan sebagai bagian keluarga besar, mereka terbiasa makan dalam satu meja, tanpa memandang pangkat/jabatan. sehingga karyawan di sana sangat loyal pada perusahaan, bahkan rela lembur tanpa dibayar. Hebat ya…

Bangsa Jepang dikenal sebagai bangsa dengan bangsa paling produktif di dunia. Mereka terkenal dengan etos kerja tinggi, pekerja keras, mampu bekerja dalm waktu panjang sebagaimana bangsa China. Para pekerja Jepang mampu bekerja dalam rentang waktu panjang tanpa mengenal lelah, bosan, ataupun putus asa. Mereka bekerja dengan penuh semangat, antusias tanpa banyak berkeluh kesah. Bukan hanya sekedar mampu bekerja dalam waktu yang panjang, tapi lebih dari itu mereka mampu mencurahkan perhatian sepenuh hati dan komitmen pada pekerjaan yang dilakukannya. Karakter dan budaya kerja keras merupakan faktor penting yang menyebabkan Jepang cepat mengalami kemajuan dalam berbagai bidang, ekonomi, industri dan perdagangan.

BEKERJA TEAM (KELOMPOK)
Salah satu kelebihan perusahaan Jepang adalah para karyawan memiliki tingkat kerja sama kelompok yang sangat baik. Kesadaran berkelompok ini dilandasi falsafah ajaran ZEN, yang menganggap bahwa individualisme merupakan hal yang kurang baik. Para pegawai di Jepang sangat mementingkan kelompok daripada individualis. Kepentingan kelompok diatas segala kepentingan lain, termasuk kepentingan keluarga.

KARYAWAN SEUMUR HIDUP
Ada hal menarik yang dimiliki budaya kerja di Jepang yang tidak dimiliki oleh bangsa lain adalah komitmen perusahaan , industri, dan birokrasi pemerintah untuk memperkerjakan karyawan seumur hidup. Sudah barang tentu pekerjaan yang diberikan disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan produktifitasnya.

Hal unik lain yang dimiliki perusahaan Jepang adalah cara merekrut karyawan. Pola perekrutan karyawan memprioritaskan kalangan lulusan baru (fresh graduate), berasal dari universitas-universitas terkemuka di Jepang. Perekrutan karyawan didasarkan pendidikan, kepribadian, dan latar belakang keluarga, bukan berdasar pengalaman kerja atau latar belakang teknologis. Perekrutan biasanya dilakukan setahun sekali.

Proses perekrutan pada awal umumnya tanpa job discription, baru setelah diterima menjadi pegawai mereka dilatih para seniordalam bidang-bidang yang dianggap tepat untuk masing-masing pegawai. Untuk mengetahui posisi paling tepat bagi pegawai, dilakukan rotasi pekerjaan secara berkala. Adanya rotasi pekerjaan diharapkan pegawai mengetahui berbagai pekerjaan serta kesulitan tiap-tiap jenis pekerjaan.

Sedangkan pola dan mekanisme pembinaan karier sudah berjalan secara otomatis sesuai masa kerja dengan diikuti peningkatan gaji sampai usia pensiun. Sekali seorang calon karyawan diterima bekerja di sebuah perusahaan, dia akan setia pada perusahaan tersebut dan bekerja seumur hidup sampai pensiun (sekitar 60-65 tahun). Biasanya seorang karyawan yang mencapai pensiun sudah mencapai posisi puncak jabatan, meskipun sewaktu baru masuk kerja memulai dari posisi bawah.

Namun seiring perkembangan zaman dan adanya resesi ekonomi, sistem kerja seumur hidup ini mulai ditinjau kembali. Pekerjaan seumur hidup hanya diberlakukan bagi karyawan yang berprestasi. Hal ini untuk mencegah terjadinya pengangguran intern perusahaan, yang sudah tentu akan sangat membebani perusahaan. Dengan adanya kebijakan baru tersebut bukan membuat semangat para karyawan loyo, justru mereka lebih bersemangat untuk meningkatkan kemampuan dan prestasi.

PEKERJA KERAS
Kondisi alam yang tidak bersahabat, potensi sumber daya alam yang sangat minim, serta ketertinggalan dengan dunia Barat akibat politik isolasi pada masa keshogunan Tokugawa telah membakar semangat penduduk Jepang untuk segera bangkit mengejar ketertinggalan. Orang Jepang hampir sama dengan China yang terkenal sebagai pekerja keras (workaholic). Menurut orang Jepang, pekerja yang pulang lebih awal dianggap hal yang “memalukan”, karena dianggap manusia tidak berguna atau kurang penting bagi perusahaan. Pekerja Jepang sanggup kerja lembur tanpa dibayar.

Hal itu dilakukan sebagai wujud kesetiaan dan komitmen mereka pada perusahaan. Mereka merasa yakin jika perusahaan mengalami kemajuan, para pekerja juga akan ikut menikmati hasilnya. KOmitmen dan kerja keras pekerja Jepang sulit ditandingi oleh pekerja dari bangsa manapun, mereka sanggup mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarga demi kemajuan perusahaan.

Jam kerja Jepang tertinggi di dunia, dari data tahun 1960 jam kerja Jepang rata-rata 2.450 jam per tahun. Pada tahun 1992 rata-rata jam kerja Jepang turun menjadi 2.017 jam per tahun. Ini masih menempati angka tertinggi di dunia, disusul Amerika 1.957 jam/tahun, Inggris 1.911 jam/tahun, Jerman 1.870 jam/tahun, dan Prancis 1.680 jam/tahun, Indonesia kira-kira berapa jam per tahun ya…???

HARMONINASI
Sikap untuk menjaga keharmonisan adalah salah satu karakter yang paling menonjol dari orang Jepang. Wakiaiai yang berarti harmoni menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Implementasinya dalam dunia bisnis adalah hubungan saling melengkapi antar mitra bisnis, antara pimpinan dengan karyawan. Orang Jepang sangat tidak menyukai adanya hubungan yang kaku, kurang fleksibel dalam hubungan antara pimpinan dan karyawan. Keadaan zaman yang senantiasa berubah menuntut penyesuaian-penyesuaian dalam hubungan yang telah terjalin.

RINGI SEIDO
Salah satu ciri khas perusahaan Jepang adalah Ringi Seido (sistem pengusulan secara tertulis), yakni sebuah metode pengambilan keputusan yang melibatkan semua tingkat pimpinan perusahaan dalam proses pengambilan keputusan, dari bawah ke atas. Sistem Ringi Seido mencerminkan keinginan seluruh komponen perusahaan, sehingga mereka berkomitmen penuh untuk melaksanakan keputusan yang diambil. Semua ikut bertanggung jawab jika terjadi kekurangan & kesalahan akibat keputusan yang diambil.Suatu organisasi perusahaan mengharapkan paling tidak ada 12 usulan dari seorang karyawan dalam satu tahun, atau 1 usulan tiap bulan.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply