Orang China Mengenalkan Bisnis Pada Anaknya Sejak Kecil

Anak Pedagang China

Anak Pedagang China

Pernahkah Anda berbelanja di toko milik orang China dan dilayani anak kecil (mungkin masih SD)? Dan biasanya anak kecil itu begitu cekatan baik penguasaan barang, cara pelayanan, dan harga. Kadang kita lihat si anak ke toko sambil membawa buku pelajaran sekolah, orangtuanya  membantu mengerjakan PR di sela-sela aktifitas berjualan, saat pengunjung lagi sepi. Saya yakin kita sering melihat pemandangan seperti itu.

Begitulah orang China, dengan mengajak anak untuk terlibat dalam pekerjaan sejak kecil secara tidak langsung anak tanda disadari sudah diberikan pendidikan cara berdagang sejak dini. Tidak ada kekhawatiran si anak akan terganggu aktifitas belajarnya, dan ternyata dengan melibatkan anak di toko, si anak semakin menghargai waktu dan makin pandai membagi waktu antara aktifitas dagang dengan aktifitas sekolah.

Tentu saja harapan orang tuanya, kelak si anak kalau sudah dewasa sudah faham betul tentang seluk beluk bisnis orang tuanya. Jangan heran kalau orangtuanya saat ini hanya punya toko kecil, nanti anaknya akan melanjutkan dan berkembang menjadi toko besar, dan akan menggurita ke banyak bisnis yang lain. Si anak diharuskan belajar bisnis mulai dari tingkat bawah sampai tingkat manajer, ini bagi orang tua yang sudah memiliki perusahaan besar. Sehingga proses regenerasi bisnis bisa berlanjut terus tanpa putus.

Ada ungkapan orang China mengatakan:
Kalau orang tua jualan air di pinggir jalan, makan anaknya harus bisa jualan air di supermarket, cucunya harus bisa buka pabrik air minum.

Saya sebagai orang pribumi, mengamati beberapa pebisnis (pedagang) pribumi terlalu “sayang” pada anaknya, sehingga anak dimanjakan, dijauhkan dari aktifitas bisnis, alasannya klise “biar bisa konsentrasi belajar/sekolah”, nanti kalau sudah dewasa baru dikenalkan dengan dunia bisnis orangtuanya. Tentu saja ini sangat-sangat terlambat, pembelajaran yang paling baik dimulai sejak dini. Kalau sudah dewasa karakter sudah terbentuk akan sulit mengarahkan, si anak sudah punya dunia lain yang mungkin beda banget dengan dunia dagang/bisnis. Akhirnya bisnis yang dengan susah payah dibangun orangtuanya, begitu orangtuanya sudah lanjut usia dan harus pensiun, sang anak tidak sanggup melanjutkan, bisnis berangsur menurun, bangkrut, dan tutup.

Saya punya banyak kenalan orang China yang masih kuliah atau sekolah tapi sudah sukses mengelola bengkel miliknya sendiri.  Ada yang sudah punya bisnis warnet/game online, ada yang sudah buka salon mobil, dimana bisnis tersebut sudah dikelola sendiri tanpa campur tangan orangtuanya. Ada yang memilih kerja sambil sekolah membantu toko saudaranya, intinya mereka sudah punya langkah yang terencana untuk membangun kerajaan bisnisnya di masa depan. Bagaimana dengan kita?

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply