Mengatur Keseimbangan Bekerja dan Tidur Untuk Mengoptimalkan Potensi Diri

Sholat Shubuh

Sholat Shubuh

Sebelum kita membahas tentang bagaimana mengatur waktu bekerja dan tidur, kita simak dulu beberapa ayat Al Qur’an berikut:

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. an-Naba’ (78); 9-11).

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. al-Furqan (25); 47).

Masih banyak ayat-ayat dalam Al Qur’an yang intinya menekankan bahwa kalau mengikuti keseimbangan alam, waktu siang idealnya untuk bekerja dan malam untuk tidur (istirahat).

Namun seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi dan industri membuat manusia terpaksa atau sengaja menabrak tata aturan alam tersebut. Banyak diantara kita yang terpaksa harus bekerja pada malam hari dan tidur di siang hari. Atau banyak pula yang sengaja menonton televisi sampai larut malam bahkan dini hari. Alhasil waktu Shubuh yang mestinya sudah bangun untuk sholat berjamaah di masjid dan memulai aktifitas malah masih terlelap tidur.

Padahal Alloh sudah mengatur alam sedemikian rupa, dan jika kita mematuhinya kita akan memperoleh manfaat yang maksimal. Waktu paling utama untuk bekerja adalah setelah terbit matahari (sekitar jam 6 pagi) sampai waktu Dhuhur (sekitar jam 12 siang).

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian ilmiah para ahli (Graff, Begner, Hollman, dan Stevinson) bahwa daya tahan tubuh bertambah dan berkurang dalam aktifitas sehari-hari atau kemampuan otot berubah dari waktu ke waktu. Lebih jelasnya bisa dilihat dalam diagram grafik berikut:

Grafik Daya Tahan Tubuh

Grafik Daya Tahan Tubuh

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa:
– daya tahan tubuh bertambah secara bertahap mulai sekitar jam 04.00 (waktu Shubuh), kemudian mencapai puncaknya sampai jam 11.00 (menjelang Dhuhur).
– daya tahan tubuh mulai menurun sampai jam 15.00 (waktu Ashar)
– daya tahan meningkat lagi sampai jam 18.00, kemudian menurun lagi
– penurunan daya tahan tubuh secara drastis mulai jam 21.00 dan mencapai titik terendah pada jam 03.00.

Jadi saat penurunan daya tahan tubuh yang drastis dari jam 21.00-03.00 sebaiknya digunakan untuk tidur dan beristirahat. Jika saat daya tahan menurun drastis digunakan untuk begadang atau beraktifitas maka tubuh akan memberontak dan berdampak buruk terhadap kesehatan.

Rasulullah sangat membenci bila waktu setelah Isya’ digunakan untuk hal-hal yang mubadzir misalnya ngobrol, begadang, apalagi nonton televisi. Beliau menyarankan setelah sholat Isya’ untuk segera tidur dan segera bangun saat sepetiga malam terakhir (sekitar jam 03.00) untuk sholat malam.dan sholat Shubuh.

Sedangkan sisa waktu siang setelah sholat Dhuhur, setelah waktu utama bekerja bisa digunakan untuk keperluan keluarga, belajar, mengajar, menuntut ilmu, dan amar ma’ruf nahi munkar. Waktu ideal untuk silaturahmi atau menjenguk orang sakit adalah setelah Ashar (jam 15.00) sampai menjelang Maghrib (jam 17.00).

Seperti itulah idealnya mengatur pola bekerja dan tidur menurut ajaran Rasulullah dan Alloh sudah mengatur alam sedemikian rupa, agar tubuh kita tetap sehat dan prima. Meski saat ini mungkin kita belum melakukan sepenuhnya, tapi kita tetap selalu berusaha untuk mengikuti anjuran Rasulullah, karena itulah pedoman cara hidup yang terbaik bagi umat Islam.

You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Mengatur Keseimbangan Bekerja dan Tidur Untuk Mengoptimalkan Potensi Diri”

  1. anty says:

    Bagaimana dengan yg bekerj sbg tenaga kesehatan yang mengharusksn shift malam? Apakah dlm jangka panjang berdampsk buruk bagi kesehatan?

Leave a Reply