Berani Memulai dari Bawah

Memulai dari bawah

Orang sering melihat kesuksesan orang lain hanya dilihat saat teridah ketika menikmati kesuksesan. Padahal dibalik kesuksesan, orang telah mengalami serangkaian kegagalan, telah melewati perjuangan panjang, bermandi  keringat & penuh kucuran air mata. Meraka bisa merasakan nikmatnya bahagia, penuh tawa ria setelah mengalami hari-hari penuh tangis derita.

Untuk sampai ke puncak kesuksesan, orang harus melewati jalan panjang, perjuangan bisnis yang dimulai dari titik paling bawah. Namun dengan segala ketekunan, keuletan, dan impian yang besar , mereka naik setahap demi setahap. Sampai akhirnya benar- benar kokoh, kuat berdiri tegak sebagai pengusaha sukses. Rata-rata para pebisnis besar benar-benar memulai dari bawah, dari bisnis kecil-kecilan yang pada awalnya mungkin diremehkan banyak orang.

Sebagai contoh Bob Sadino, pengusaha nasional  supermarket Kem Chicks & Kem Food ini memulai bisnis dengan berjualan telur ayam, bermodalkan ratusan ribu rupiah saja. Contoh lain Hendy Setiono, sebagai owner Kebab Turki Baba Rafi ini memulai bisnis hanya berawal dari sebuah rombong, modal sendiri tanpa bantuan orang tua. Beliau juga pernah harus menjaga rombong berjualan sendiri karena belum memiliki karyawan yang loyal. Tapi sekarang Kebab Turki Baba Rafi telah berkembang begitu pesat, dengan di-francishe-kan kini outletnya telah beranak pinak sampai ratusan, bahkan ribuan.

Purdi E Chandra adalah contoh kesuksesan lain yang berangkat dari bawah. Memulai bisnis bimbingan belajar hanya bermodal ruangan sangat sederhana, modal dengkul & nekad, tapi dengan cara “GILA” ala otak kanannya, kini telah benjadi bisnis bimbingan belajar paling besar di negeri ini. Dengan jumlah cabang mencapai hampir seribu, Primagama telah menjadi raksasa bisnis bimbingan belajar yang sulit ditandingi.

Dari beberapa contoh di atas, apalagi yang ditakutkan untuk memulai bisnis? Selagi kita punya keinginan yang kuat dan keberanian untuk memulai, punya impian besar, berarti kita sudah maju satu langkah menuju kesuksesan.

Saya masih ingat ketika belajar bisnis 20 tahun yang lalu. Waktu itu saya lulusan sarjana, hidup dirantau tapi belum dapat pekerjaan. Saya juga tidak memiliki modal banyak. Yang saya punya waktu itu cuma motor butut Yamaha keluaran thn 70 an. Saya dipaksa berbisnis oleh mentor  saya yang tidak lain kakak saya sendiri. Kakak saya yang cuma lulusan SD tapi punya impian besar jadi pengusaha, mengatakan begini,

“Kalau kamu tidak pingin mati kelaparan di kota ini (Surabaya red), kamu harus jualan saat ini juga. Yang kita pikirkan hari ini hanyalah untuk bertahan hidup, bisa makan…titik!!” Saya cuma cengar-cengir mendengarnya, mentor saya berceramah lagi.

“Lupakan dulu ijasah sarjanamu, simpan di laci, besok kita jualan, jualan apa saja, yang penting dapat uang halal & bisa makan.”

“Tapi saya kan cuma bisa jadi guru (lulusan IKIP red), gak bakat jualan?”

“Sudahlah, bakat itu tidak penting, kita baru tahu bakat atau tidak setelah dicoba. Dan yang lebih penting kamu harus bisa hidup tanpa menjadi beban orang lain.”

Wuuiihhh…, telinga saya panas rasanya mendengarkan ceramah sang mentor. Kakak saya kalau ngomong emang cespleng, to the point, sering kali pedas, langsung menusuk sampai tulang sumsum…he..he…he… Tapi saya pikir-pikir ada benarnya juga.  Akhirnya dengan terpaksa, besoknya saya dianter ke pegadaian, ya..ngapain lagi kalau bukan untuk menyekolahkan BPKB motot bututku itu alias ngutang. Dapet uang berapa coba?  Yang jelas sangat..sangat sedikit..125.000..!!! Busyet…ini uang apa udang, he..he..he..

“Buat kulakan apa ya duwit segini..?’’ tanya saya. Saya & kakak saya berpikir keras, sampai akhirnya ketemu ide…jualan bollpoint…!!!

“Bolpoint itu untungnya lumayan lho… Kulakan 1.000 bisa dijual 2.000, paling apes 1.500. Caranya kita kulakan bolpoint yang model & merknya gak umum di pasaran. Jadi orang gak bakalan tahu kalau ini bolpoint sebenarnya murah, kan modelnya bagus.” Kata kakak saya.

“Tapi saya malu mas untuk memulai, kan baru pertama jadi pedagang kaki lima,” jawabku.

“OK, untuk hari pertama saya temani, tapi besoknya kamu harus berani jualan sendiri. Percayalah, begitu barangmu laku, dapat duit, dapat untung banyak, rasa malu, minder  pasti hilang dengan sendirinya,” jawab kakakku meyakinkan.

Dan bener juga, besoknya saya mulai jualan, dan Alhamdulillah dapat untung banyak. Hari- hari selanjutnya saya lebih rajin, dan lebih ngotot jualan daripada kakak saya. Dan beberapa bulan berikutnya saya menemukan model bisnis serupa tapi sedikit modifikasi, dan hasilnya sangat luar biasa. Mulai saat itu bisnis saya mulai tumbuh, dan saya mulai yakin bahwa saya merasa berbakat jadi pedagang. Pedagang yang benar-benar bonek (bondo nekat) dan modal dengkul.

Mental ini terbawa sampai sekarang, ketika bisnis saya berkali-kali jatuh sampai titik nol, bahkan yang terakhir sampai di bawah titik nol. Tapi urat takut saya rasanya sudah putus, paling tidak kebal dengan segala keadaan. Saya merasa yakin, tanpa modal uangpun masih bisa berbisnis, yang penting kita masih punya kredibilitas yang baik, Insya Alloh saudara, teman terdekat masih sanggup menjadi dewa penolong di saat kita membutuhkan. Jadi ..beranilah memulai, salam sukses..!!!



You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Berani Memulai dari Bawah”

  1. […] orang yang malu memulai bisnis dari bawah, takut dikatakan gak bonafid, atau gengsi. Maunya bisnis langsung gedhe, untung banyak, dan cepet […]

  2. […] ketika memulai bisnis, sebaiknya jangan terlalu mengandalkan logika (otak kiri), tapi lebih mengandalkan feeling/ […]

  3. Hi, I do believe this is a great site. I stumbledupon it 😉 I may come back once again since I book marked it.
    Money and freedom is the greatest way to change, may you be rich and
    continue to guide other people.

Leave a Reply